Hidangan emas dari Yang Maha Pemurah
dari ceruk rantau Gunung Botak menjadi rujukan orang-orang nestapa.
Daun biru pelangi membungkus tubuhnya yang terjar
menampung kekejaman penambang
yang siap mengikis hidangan.
Orang-orang nestapa dari segala kalangan
serempak serentak meniti buih lubang harapan.
Jiwa dan raga mereka kerahkan
di antara galian-galian terjal
nyawa mereka taruhkan.
Pulau Buru, Namlea, 2018.
KEMATIAN SULUH BUDAYA
Kebun telah dibangun gedung megah
benih-benih dulu kautanam
tumbuh sebatang di halaman
Berbuah berkali-kali buah terserak
diserampang bangsa pencuri
sebagiannya ludes terjual di pasar
Sepulang siang menenteng oleh-oleh
mabuk gadung di halaman
Seperti ada yang hilang dari anak cucu
pewaris budaya luhurmu
Bangkalan, Juli 2019.
API
Kuhisap cintamu pada api
Dalam sukmaku yang sunyi
Membentang kepak-kepak burung
Rindu menabik waktu
Aku tidaklah kau
Kecuali menyatu dalam dzatmu
Berkelana di gurun sahara
Desir angin sangkakala
Adanya dari hulu ke hilir
Tak usang oleh peradaban zaman
Cinta melebur dalam nirwana
Segala kuarsa pujangga hati
Rantau, 14 Desember 2019.
BUNGA API
luka nganga
menelan matahari
terbakar jelaga
sakit hati
bagai daun limbung
disapu angin
membajak bintang
kaki halaman
Bangkalan, 21 Maret 2020.
SUDUT PANDANG
1/
Dinding kaca
kacamata
tembus pandang
tunduklah.
2/
Matahari
bunga kuning
sengketa
rabun ayam
ternyata.
3/
Urat leher
sebatang pohon
naungan diri
sia-sia.
Bangkalan, 14 Maret 2020.
Moehammad Abdoe, anggota komunitas Dari Negeri Poci. Pelopor komunitas Pemuda Desa Merdeka (PDM 2015) dengan gerakan yang mengangkat tema sosial dan seni musik jalanan. Karyanya berupa puisi dan cerpen telah diterbitkan di berbagai media massa, dan diabadikan dalam berbagai buku antologi. Saat ini, ia tinggal di sebuah desa kecil di bawah lereng bukit kapur (Malang).
#moehammadabdoe #sajaksajak #pondoksastra


Komentar
Posting Komentar