Langsung ke konten utama

Puisi Moehammad Abdoe (Pondok Sastra)

BIANGLALA
Oleh: Moehammad Abdoe.

Musim hujan di Kota Malang
Pelangi di tepi Sungai Brantas itu
Indah menawan bak tepian mata
Kemilap cahayanya ingin mengabadikan

Tatkala senja mengujung tiba
Matahari tersangkut di kabel
Bocah-bocah sebaya bersahaja
Menarik layang-layang

Bila di Jakarta angin saja dijual
Di kotaku angin bertebaran
Melesat ke segenap penjuru ruang
Pohon nyiur di tepi jalan

Malang, 20 November 2019.

MERPATI
Oleh: Moehammad Abdoe.

Merpati
Jemputlah kekasih
Tatkala ia bertanya
Jawablah karena cinta

Rayu dan cium
Sambutlah dengan senyum
Gamit dan kepakkan sayapmu
Terbanglah sampai tujuh

Pulau Buru, Namlea, November 2018.


GUNUNG BOTAK
Oleh: Moehammad Abdoe.

Hidangan emas dari Yang Maha Pemurah
dari ceruk rantau Gunung Botak menjadi rujukan orang-orang nestapa.
Daun biru pelangi membungkus tubuhnya yang terjal
menampung kekejaman penambang
yang siap mengikis hidangan.
Orang-orang nestapa dari segala kalangan
serempak serentak meniti buih lubang harapan:
jiwa dan raga mereka kerahkan
di antara galian-galian terjal
nyawa mereka taruhkan

Pulau Buru, Namlea, 2018

TAHUN BARU
Oleh: Moehammad Abdoe.

Baru semalam aku tidur
Hari ini sudah tahun baru lagi
Tak terasa atau memang mati rasa
Aku tak pernah peduli

Dunia bertambah tua
Kehidupan semakin sesak
Ombak jemu dengan lautan
Gunung-gunung berdahak sembarangan

Bilamana Isrofil meniup sangkakalanya
Sedang aku asyik bermain
Tertawa bahkan terpingkal-pingkal
Dunia ilusi

Benar-benar tak terasa
Hari ini sudah tahun baru lagi
Waktu berpacu begitu cepat
Merenggut banyak kesempatan


Malang, 1 Januari 2017.


TEPIAN ILMU
Oleh: Moehammad Abdoe.

Timbalah ilmu sampai ke negeri akherat
Tanamlah budi sebelum kelak ubanmu jatuh ke tanah
Junjung tinggi tepian ilmu di atas kepala
Doa orang tua jangan lupa selalu kaubawa

Maluku, 11 Maret 2018.

Tentang Penulis:



Moehammad Abdoe, alumnus SMA Jendral Sudirman Kalipare, Malang, seorang anggota Komunitas Bisa Menulis (KBM 2013) bersama Isa Alamsyah. Lelaki kelahiran Malang, 27 Mei 1999 tersebut juga aktif di sebuah komunitas (Pemuda Desa Merdeka 2015) yang didirikan dengan menjunjung tema-tema sosial, seni jalanan, dan semangat para pemuda. Kecintaannya pada dunia sastra telah melahirkan banyak karya yang bertebaran di beberbagai buku antologi cerpen dan puisi. Selain itu, karyanya juga kerap menghiasi media massa koran daerah. Alamat email-nya (Moehammadabdoe@gmail.com). No. Tlp. Wa. (085730551400). Facebook (Abdu_thetoasters@yahoo.com)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Moehammad Abdoe (Pondok Sastra).

gambar google. DARI LORONG SELIMUT Oleh: Moehammad Abdoe. Ya Tuhan secuil batu bata tiupan firman adakah ruang atau sekedipan waktu untuk lari? Di balik selimut kelam ruhku direnggut sunyi sejenak ingin kulepas garis pandangMu Menembus malam melintasi rembulan bintang-bintang, bima sakti dan galaksi-galaksi Dari barat sampai timur fajar tiada kusanggup berpaling dariMu yang luas mengetahui Bangkalan, 03 April 2019. API Oleh: Moehammad Abdoe. Kuhisap cintamu pada api Dalam sukmaku yang sunyi Membentang kepak-kepak burung Rindu menabik waktu Aku tidaklah kau Kecuali menyatu dalam dzatmu Berkelana di gurun sahara Desir angin sangkakala Adanya dari hulu ke hilir Tak usang oleh peradaban zaman Cinta melebur dalam nirwana Segala kuarsa pujangga hati Rantau, 14 Desember 2019. MANI BUNGA KERANDA Oleh: Moehammad Abdoe. Mani bunga keranda Di pundak-pundak petani Kereta arak-arakan Payung zikir Sepetak ladang basah Bedeng renungnya rahim bumi ...

Puisi Moehammad Abdoe (Pondok Sastra).

gambar google. ANAK GEMBALA Oleh: Moehammad Abdoe. Rumah prodeo Merajut badan sebatang kara Dangau pemasungan Sungai darah Usiran kasih sayang Tempat pembuangan bertingkap Saat kabut purba lengas Gulita kerai bulan Waktu menjelang tiba Sembap di pangkuan bunda fajar Mengecup tanah berbunga Di taman Suara bangsi gembala Menggema di padang sabana Cemeti dewa menggiring domba Pulang ke kandang Malang, 14 Februari 2020. PERAHU KERTAS Oleh: Moehammad Abdoe. Perahu kertas Dermaga penantian Mengeja seribu deretan aksara Riwayat batu karang Lembayung berenang Selaput bening matanya berkaca-kaca Di langit tua berkunang-kunang Ia membasuh luka Tuhan kiranya mampu Menangkup cahaya menara pandu Ajarilah bagaimana menyandarkan perahu Kemudian melipat sampul buku Kiranya beku kapur Luntur mengabu di lautan kalbu Bagaimana sauh berlabu Pusaran laut biru Bangkalan, 25 Februari 2020. BAHTERA YATIM PIATU Oleh: Moehammad Abdoe. Memanjat doa tebing...