Langsung ke konten utama

Postingan

SEBUTIR DEBU (Kumpulan Puisi Moehammad Abdoe)

  Sebutir Debu Penulis : Moehammad Abdoe Ukuran : 14 x 21 cm Terbit : April 2021 Harga : Rp 76000 www.guepedia.com Sinopsis : Kumpulan puisi Sebutir Debu oleh Moehammad Abdoe ini dikuasai oleh 94 himpunan puisi yang membicarakan mengenai persoalan rohani, integritas nasionalisme, religi, serta lebih dalam membahas seputar percintaan. Ilhamnya sendiri dicetuskan melalui pelbagai peristiwa dan persoalan yang kemudian dikemas menjadi sebuah kumpulan puisi yang sangat baik guna merefleksi diri ataupun dalam menjentik kesadaran diri para pembacanya. www.guepedia.com Email : guepedia@gmail.com WA di 081287602508 Happy shopping & reading Enjoy your day, guys GUEPEDIA https://www.guepedia.com/Store/lihat_buku/MjE2NDE= TOKOPEDIA https://tokopedia.com/guepedia/buku-kumpulan-puisi-sebutir-debu-guepedia BUKALAPAK https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/buku/sastra/4el7lqg-jual-buku-kumpulan-puisi-sebutir-debu-guepedia GUEPEDIA STORE https://guepediastore.com/products/5...
Postingan terbaru

Puisi-puisi Moehammad Abdoe

IBUKOTA selamat malam kota Jakarta malam selamat selamat malam tabu nasib ibuku yang malang ibuku yang hampir mati di kaki reruntuhan gedung sebab ayahnya akan pergi mencari ibu tiri ke pulau perawan seberang: mendompeng batu bara membangun rumah tangga dan peradaban baru aku masih berdiri di antara cahaya gemintang lampu gedung Jakarta tanpa bintang Jakarta tanpa langit dan rembulan ketika malam aku menyaksikan seorang anak perawan belia ditelanjangi oleh sepuluh pria remaja dewasa dan seratus ribu orang tua yang tengah haus nafsu mereka saling termenung di balik punggungnya kota Jakarta nasib ibuku yang paling malang ibuku yang hampir mati di kaki reruntuhan gedung sebab ayahnya akan pergi mencari ibu tiri ke pulau perawan seberang: meracik bau anyir sungai tohor yang kotor untuk warisan masa depan Jakarta, 3 Februari 2020. KAMPUNG HALAMAN dedaunan pohon melambai tiupan angin menyapu debu halaman perih menyapa mataku bertanya kabar tentang musim di...

Puisi Moehammad Abdoe (Pikiran Rakyat, 19 Oktober 2020).

  Pikiran Rakyat, 19 Oktober 2020. AROMA SILANG KAPUR BARUS 1 Dalam almari itu Masih tertata rapi kemeja dan sarung Pelasah melipat kenangan Jejak tubuhmu Bibir pucat masalah Senandung sesal aroma kamper Memilin jari-jari kasih Pada selembut sutra Menjahit kembali Ketiak kemeja nan pernah robek Meminang ampunan Seluas pintumu Kalipare, 21 Juni 2020. AROMA SILANG KAPUR BARUS 2 Melihat catut dan gunting di lipatan baju  Betapa aku masih menghafal aroma ketiak bulan  Saat melepas satu per satu bulu matamu  Nan kerap menangis di kedipan malam  Dirahasiakannya obat mata dalam saku  Biarlah bulan menelan sepi lukanya di antara kemilap kejora  Anak-anak dari Timur yang tumbuh  Menebar wangi kapur barus di meja makan  Kalipare, 22 Juni 2020.  AROMA SIILANG KAPUR BARUS 3 Masa di mana kau dapat membelinya dari kios pasar tradisional, dulu  Sebuah arloji berwarna keemasan yang kini mulai tampak pudar  Sebermula adalah benda kesayanganmu...

Sajak-sajak Moehammad Abdoe (Suara Sarawak Malaysia)

 

Puisi-puisi Moehammad Abdoe

  Riau Pos, 6 September 2020. Asmaradahana apakah yang berpaling darimu keraguan rintik hujan di luar jendela datang laju angin membawa kabar bisik-bisik daun kering asmaradahana sepasang burung jalak hinggap sayap sengketa di dahan rambutan berhujan-hujan asmara ke bumi dua paruh saling patah menangkup garis musim mengabu jauh di luar batas Malang, 25 Agustus 2020. Bintang Pengetuk Rembulan bergelayut awan Bintang-bintang berzikir di kedipannya Memancarkan cahaya terang benderang Gulita rona marcapada Mengetuk setiap pintu-pintu rumah itu Sebagai tangga nada para pejalan malam Dari menuju pelataran sumpahnya “Maka, Sayang. Ketuklah pintu rumahku” Mengolah dan mengasah panca indra Senantiasa menyelami kedalaman Cahaya di atas cahaya Sang pemilik tunggal semesta alam Malang, 23 Agustus 2020. Mandul Kutulis sajak ini dari seorang pemegang pena yang termenung di tepi sungai tohor telaga hitam penanya Menyaksikan pohon meranggas paru-paru perunggu bernap...

Puisi-puisi Moehammad Abdoe (Bangka Pos, 12 Juli 2020).

SKETSA MONOLOG BERBATUAN Pohon-pohon merenung Tempias hujan menampar kelisah Daun kering saling berguguran Menimpa pada gemercik air sungai Selaksa rindu mengalir Monolog berbatuan sunyi Ikan sepat berenang dengan arus Burung kedasih mengeja syair hujan Menukik serangga pada jejaknya Anak-anak bermain sungai Malang, 1 Juli 2020. MATAHARI BUNGA KUACI Hari selepas hujan redah Bulu matanya perlahan semakin memanas Mengintip di balik kerimbunan Di langit tua yang bersangga tiang Matahari pun telah berangsur ke laut Pelepah daun pisang kemudian menguning Burung-burung malam bermain dawai Menyanyikan sajak tentang rembulan dan anggur Sebelum cahaya tersebut benar-benar berlalu Adapun ribuan anak panah pengantar doa Saling gemetar dan berkalang lidah Membaca tangis selembar robekan peta Malang, 3 Juli 2020. MASKUMAMBANG Siluet kapal menyempit ke pulau Cahaya kuning dipancarkan Mengapung dengan gelombang laut Tercubit pasir bas...

Sajak-sajak Moehammad Abdoe (Tanjungpinang Pos, 1 Agustus 2020).

  KELUARGA IBRAHIM (1)  Di bukit Mina itu  Ibrahim seorang Nabi taat  dari Allah telah menguji  menyembelih putranya  bernama Ismail  Sebab kesabaran hati  Allah pun mengutus Jibril  menukar putra Ibrahim  seekor domba  (2)  Ismail putra Hajar  Nabi yang saleh dan tabah  sumber mata air zamzam  terpancar zaman  (3)  Sungguh Siti Hajar  perempuan dari Mesir itu  terpanggang terik matahari  di lembah gersang  Betapa pun sabar  kasih dan pengorbanannya  berputar tujuh keliling  umat mengenang  (4)  Menyembelih Ismail  di puncak ketakwaannya  Allah mengajarkan  manusia agar menyembelih  sifat-sifat binatang  pada dirinya  Malang, 30 Juli 2020. RINDU DI JALAN NABI MUSA Bila rindu telah berserah diri  waktu hanyalah ruang yang hampa  namun, bila rindu telah menggebu  akankah jarum dapat menemukan bukti Seperti di pundak ...