Penulis : Moehammad Abdoe
Ukuran : 14 x 21 cm
Terbit : April 2021
Harga : Rp 76000
www.guepedia.com
Sinopsis :
Kumpulan puisi Sebutir Debu oleh Moehammad Abdoe ini dikuasai oleh 94 himpunan puisi yang membicarakan mengenai persoalan rohani, integritas nasionalisme, religi, serta lebih dalam membahas seputar percintaan. Ilhamnya sendiri dicetuskan melalui pelbagai peristiwa dan persoalan yang kemudian dikemas menjadi sebuah kumpulan puisi yang sangat baik guna merefleksi diri ataupun dalam menjentik kesadaran diri para pembacanya.
www.guepedia.com
Email : guepedia@gmail.com
WA di 081287602508
Happy shopping & reading
Enjoy your day, guys
GUEPEDIA
https://www.guepedia.com/Store/lihat_buku/MjE2NDE=
TOKOPEDIA
https://tokopedia.com/guepedia/buku-kumpulan-puisi-sebutir-debu-guepedia
BUKALAPAK
https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/buku/sastra/4el7lqg-jual-buku-kumpulan-puisi-sebutir-debu-guepedia
GUEPEDIA STORE
https://guepediastore.com/products/5706415/sebutir-debu
SHOPEE
Puji syukur pada Allah SWT, saya dapat menulis naskah kumpulan puisi berjudul Sebutir Debu. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, kritik, dan sarannya atas penyusunan buku ini.
Saya menyadari masih terdapat kekurangan dalam penyusunan naskah, tetapi saya berharap dengan lahirnya buku ini bisa mewakili hati para pembaca.
Sebutir Debu adalah kumpulan puisi yang mengisahkan tentang perjalanan batin. Sebutir Debu adalah permainan diksi yang lahir dari ketajaman nurani. Sebutir Debu adalah rahasia hati tentang kejujuran penyairnya dengan sang khalik.
Jakarta, 2 April 2021
Moehammad Abdoe
MUSAFIR
:Kepada Penyair Iman Budhi Santosa
dalam sebuah cermin buram kamar tua
sepotong replika wajah seorang pengembara dari negeri asing:
"kau terduduk serupa patung denganku"
sementara poros telaga bening matamu
terkatup dinding teratai.
barangkali sejenak dapat kuselami di balik wujud siapa dirimu sebenarnya
yang menempuh jalan suluk menuju altar
pengabdian diri dalam rimba
sedang kemilau rona swastamita acapkali menempelkan cumbu rayunya pada kaca.
serupa tempias hujan pelabuhan angin di balik kaca jendela
itu wajahmu semakin tampak menua
mengerut daun telinga sore hari dalam zikir masa berkunjung
larut serta melipat laju bayangmu kian memanjang.
Jakarta, 19 Oktober 2020.
LELAKI BERSEPEDA JENGKI
:Kepada Penyair Darman D. Hoeri
dalam sajak sederhana ini
kutulis sejuta abad depa jarak kesunyian memanggil
namamu
anggun kukemas senyum rembulan ke dalam bait puisi
yang menjelma rintik hujan
abadi.
menyapa daun pipi akar bunga ranum
terkembang hari
dan kutanggalkan kembali di punggung tanganmu
rangkaian jutaan abjad yang pernah kauajarkan
di bangku sekolah
ketika
sejenak ingin kukenang hulu rindu
di hari jengkel
melipat masa serupa kertas contekan
pesan merdu burung. hinggap memberi kabar selepas ujian:
“kau, satu altar singgah
membangun ruang.”
kereta angin tabah mendedah pagi
sumber mata air di tangan
murah senyum
berbagi
Malang, 27 November 2020.
DADA WAKTU
hening meneroka tubuh malam
menjentik bunga dada pancaroba
teduh mayang bernaung di bawah payung
langsat berbuah dadu angin hulu timur
menyergap poripori dasar kerajaan tanah
bertunas sorban daripada rumah rayap
sepenggalah lagi mendaki tebing curam
layu beralih sangkan kemudian
berkata sayap angin kepada serangga
napasmu bukanlah meja cemas
duduk berkaca wajah baru
satu musim tengah berangsur ke laut
Malang, 29 November 2020.
CERMIN PERADABAN
/1/
berkacalah wajah zaman
jangan sampai kau menyesal di kemudian hari
tuhan maha penyayang lagi maha menunjukkan jalan
/2/
menumpas belantara hidup
hanyalah perjalanan kaki tanpa rasa
belajar hakikat ilmu tanpa guru
sama dengan menggali sumur di lahan tandus
/3/
dan kita saling bisa menyaksikan
wajah peradaban zaman
apakah yang sekiranya menjadi pertanda
bacalah, dan bacalah
Malang, 3 Desember 2020.
WANITA JALANG
di bawah terik siang bulu
picing matamu bibir bunga
teduh payung sungai daki
berlinanglah cuaca terbuka
mengalir menyusuri ruang
akar beringin rindang waktu
dan bangku taman kosong
labalaba merajut jaring
bila esok kaujelang wajah baru
mentari di balik rerimbun
kenanglah diriku sampai jauh
bertepi di pelabuhan bunga
Jakarta, 13 November 2020.
IBUKOTA
selamat malam kota Jakarta
malam selamat
selamat malam tabu
nasib ibuku yang malang
ibuku yang hampir mati di kaki reruntuhan gedung
sebab ayahnya akan pergi mencari ibu tiri
ke pulau perawan seberang:
mendompeng batu bara
membangun rumah tangga dan peradaban baru
aku masih berdiri di antara cahaya gemintang lampu gedung
Jakarta tanpa bintang
Jakarta tanpa langit dan rembulan ketika malam
aku menyaksikan seorang anak perawan belia ditelanjangi
oleh sepuluh pria remaja dewasa
dan seratus ribu orang tua yang tengah haus nafsu
mereka saling termenung di balik punggungnya
kota Jakarta
nasib ibuku yang paling malang
ibuku yang hampir mati di kaki reruntuhan gedung
sebab ayahnya akan pergi mencari ibu tiri
ke pulau perawan seberang:
meracik bau anyir sungai tohor yang kotor
untuk warisan masa depan
Jakarta, 3 Februari 2020.
KAMPUNG HALAMAN
dedaunan pohon melambai
tiupan angin menyapu debu halaman
perih menyapa mataku
bertanya kabar tentang musim dingin
tempat di mana pertama kali sanda meneguk air susu
dari hasil ibu memakan makanan yang tumbuh di tanah asalnya
tiada kerinduan selain kerinduan
seolah hati baru saja sembuh dari ngilu bising kota
mendengar lagi suara nun jauh tertinggal oleh putaran waktu
di sudut peraduan nasib orang-orang melarat:
wewangian baju kota
lampu gedung pencakar langit
serta anak-anak jalanan yang masih terusik dari tidur malamnya
duhai wajah teduh berambut mati
letih kusimpan rindu di antara lipatan kulit ular
mendedah cangkul saat
kerutan wajah mulai tampak pada kaca
sisa-sisa kenangan
guratan masa lalu sebelum semburat senja senandung diri di halaman
pada hari sebelum senja itu
meringkuk memasuki pintu malam berbintang
anak-anak kembali belajar mengaji
membersihkan daki di sekujur tubuhnya
kepada siapa pertama kali
sanda belajar berbakti
Jakarta, 29 Maret 2020.
ASMARA
/1/
suatu ketika hujan menahanmu
di ujung bulu mata panas
kita berdua berteduh mendekap tubuh cuaca
menatap beku hulu kenangan
mengalir ke rimba hilir
dan betapa ingin segera kubasuh
garis tanganmu
namun aku barangkali hanyalah angin bagimu
dari satu pohon ke lain daun
melompat dari satu mata ke lain hati
membagi kasih
/2/
entah bagaimana mulanya aku mencintaimu
laksana daun gugur yang tidak sempat menyentuh tandus
sebab angin segera membuangnya ke tengah samudra
kemudian memecah bersama gulungan-gulungan ombak
lautan asmara
/3/
apakah yang berpaling darimu
keraguan rintik hujan di luar jendela
datang laju angin membawa kabar
bisik-bisik daun kering
asmaradahana sepasang burung jalak
hinggap sayap sengketa di dahan rambutan
berhujan-hujan asmara ke bumi
dua paruh saling patah
menangkup garis musim mengabu
jauh di luar batas
/4/
dingin pun perlahan menyetubuhi malam
sedang di kamarku
cermin itu masih mengenang wajahmu
yang telanjang pada katil
mencatat awan noda dan
pulau-pulau kecil
mendaki puncak gairah
asmara
Jakarta, 23 Oktober 2020.
BINTANG NIKE ARDILA
/Malam Terakhir/
seberkas cahaya bintang kehidupan
satu cahaya di atas cahaya
satu cahaya termenung di atas bukit
pada fajar yang telah merebahkan tubuhmu
itu angin mengiris duka
menanggalkan embun dari daun yang lugu
pada waktu yang tepat mengintai
bintang cemerlang
tinggi di puncak firdaus
/Hari Sebelum Fajar Tiba/
pada malam kaku isyarat sunyi
hari sebelum fajar itu meneguk sinarmu
ada satu bintang paling cemerlang:
satu bintang di antara ribuan juta bintang
satu bintang mengapung di atas mega
meringkuk pagi siluet tubuh lembayung
memintas laju bayangmu
pergi
/Matahari Telah Tinggi/
langit biru yang muram
wajah mentari bermata garang
kini melihatmu tanpa gairah lagi
seperti matanya tak ingin menangis
agar bayangmu tetap abadi
menemani
Malang, 10 Februari 2020.
BINTANG PENGETUK
rembulan bergelayut awan
bintang-bintang berzikir di kedipannya
memancarkan cahaya terang benderang
gulita rona marcapada
mengetuk setiap pintu-pintu rumah itu
sebagai tangga nada para pejalan malam
dari menuju pelataran sumpahnya:
"maka (sayang) ketuklah pintu rumahku"
mengolah dan mengasah panca indra
senantiasa menyelami kedalaman
cahaya di atas cahaya
sang pemilik tunggal semesta alam
Malang, 23 Agustus 2020.
MATAHARI BUNGA KUACI
hari selepas hujan redah
bulu matanya perlahan semakin memanas
mengintip di balik rerimbun
di langit tua yang bersangga pada tiang
dan matahari pun telah berangsur ke laut
pelepah daun pisang kemudian menguning
burung-burung malam bermain dawai
menyanyikan sajak tentang rembulan dan anggur
sebelum cahaya tersebut benar-benar berlalu
adapun ribuan anak panah pengantar doa
saling gemetar dan berkalang lidah
membaca selembar genangan peta
Malang, 3 Juli 2020.
___
BIOGRAFI PENYAIR:
Moehammad
Abdoe adalah
penyair dan cerpenis berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal melalui karyanya
berupa cerita pendek dan puisi yang beredar di sejumlah surat kabar Indonesia
maupun luar negeri seperti: News Sabah Times, Harian Ekspres, Utusan Borneo,
Suara Sarawak, Suara Merdeka, Republika, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, Tabloid
Target, Minggu Pagi, Koran Merapi, Analisa, Rakyat Sultra, Riau Pos, Bangka
Pos, Pontianak Post, Tanjungpinang Pos, Pikiran Rakyat, Medan Pos, Pos Bali, Nusa Bali, Malang Post, Radar Madura, Radar Madiun, Radar Banyuwangi, Radar Malang, Radar
Mojokerto, Radar Cirebon, Harian Bhirawa, Lampung News, Dinamika News, BMR Fox,
Cakra Bangsa, Majalah Suluh, Semesta Seni, Kata Berita, Gokenje, Cakra Dunia,
Serikat News, Marewai, Negeri Kertas, Jejak Penulis, Apajake, Banaran Media, Cerano,
Tembi Rumah Budaya, serta diabadikan di berbagai buku antologi bersama
Pengantin Langit (BNPT-KSI, Jakarta, 2014), Sapuan Angin Mawar (2015), Penulis
Puisi Satrio Paningit (2016), Tulisan Tangan Penyair (2017), Bianglala (2018),
Aksara Rindu (2019), Obor Peradaban Barus (2020), HB Jassin “Angkatan Milenial”
Dapur Sastra Jakarta, Gembok, Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia IX (2021),
serta tercatat di buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia bersama Rida K. Liamsi dan
Sutardji Calzoum Bachri.
Lelaki
kelahiran kota apel (Malang, 27 Mei 1999) tersebut awal mula menekuni dunia
sastranya meliputi beberapa pulau dan kota antara lain: Jakarta, Pulau Buru,
Madura, dan Jawa. Beberapa puisinya pernah ditayangkan di harian Riau Pos dalam
edisi khusus untuk memperingati Hari Puisi Indonesia (28 April 2020 sekaligus
untuk mengenang wafatnya penyair Chairil Anwar). Dibacakan oleh budayawan Sumatera
Barat (Yeyen Kiram, SH) di puncak acara Padang Kata-Kata. Pernah mendapat
anugerah penghargaan dari kantor Bahasa Sulawesi Tenggara 2019, Universitas
Gadjah Mada, dan penerbit Surya Pustaka Ilmu 2020.
Selain itu,
ia juga produktif menulis artikel di kolom "Fiksi" Kompasiana. Aktif
bergiat di beberapa komunitas seperti: Dari Negeri Poci, Sanggar Purai (Tarian
Sufi), Dinding Puisi, Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, Sastra Minggu, Sastra
Koran Majalah, Komunitas Bisa Menulis, Forum Sastra Asian, Lingkar Studi Sastra
Setrawulan, serta memelopori komunitas Pemuda Desa Merdeka (PDM 2015) yang
banyak menghimpun dari kalangan seniman dan musisi kota Malang dengan satu
gerakan yang lebih condong mengangkat tema-tema sosial dan kreatif seni musik
jalanan. Sekarang ini, ia masih tinggal di sebuah desa kecil di bawah lereng
bukit kapur (Kalipare-Malang) sebagai penulis lepas.

Komentar
Posting Komentar