Langsung ke konten utama

Puisi Moehammad Abdoe (Pondok Sastra).

gambar google.

ANAK GEMBALA
Oleh: Moehammad Abdoe.

Rumah prodeo
Merajut badan sebatang kara
Dangau pemasungan
Sungai darah

Usiran kasih sayang
Tempat pembuangan bertingkap
Saat kabut purba lengas
Gulita kerai bulan

Waktu menjelang tiba
Sembap di pangkuan bunda fajar
Mengecup tanah berbunga
Di taman

Suara bangsi gembala
Menggema di padang sabana
Cemeti dewa menggiring domba
Pulang ke kandang

Malang, 14 Februari 2020.

PERAHU KERTAS
Oleh: Moehammad Abdoe.

Perahu kertas
Dermaga penantian
Mengeja seribu deretan aksara
Riwayat batu karang

Lembayung berenang
Selaput bening matanya berkaca-kaca
Di langit tua berkunang-kunang
Ia membasuh luka

Tuhan kiranya mampu
Menangkup cahaya menara pandu
Ajarilah bagaimana menyandarkan perahu
Kemudian melipat sampul buku

Kiranya beku kapur
Luntur mengabu di lautan kalbu
Bagaimana sauh berlabu
Pusaran laut biru

Bangkalan, 25 Februari 2020.

BAHTERA YATIM PIATU
Oleh: Moehammad Abdoe.

Memanjat doa tebing
Di langit rembulan dan matahari
17. 508 pulau mengangkang
Puing-puing Nusantara

Bahtera yatim piatu
Upacara bendera kebangsaan
Bunga-bunga dan perahu
Mengangkang

Wahai kepala buntung
Para pemimpin berkemeja wangi
Bagaimana membangun tatanan hidup
Anak-anak zaman kami

Laut kehilangan garam
Gunung-gunung menjulang lukisan
Pelacuran kekuasaan hukum alam
Di tanah kontrakan

Bangkalan, 27 Februari 2020.

MOKSA
Oleh: Moehammad Abdoe.

Ya Allah
aku tak ingin lagi menggadaikanmu
menukarmu dengan nikmat ketika timbul syahwat.

Aku tak ingin lagi menjualmu
menukarmu dengan kerak ketika didesak kebutuhan.

Ya sayang, oh Tuhan sayang
hati kecilku bertapa di tepi-tepi pembuangan
bersimpuh gembeng berurai air mata
tawajuh melepas kerak kehidupan.

Malang, 2019.

MAHA KAYA
Oleh: Moehammad Abdoe.

Tuhan kami amatlah kaya
Lebih kaya dari segala raja
Kami tahu dengan mata
Gunung, laut, angkasa
Tuhan kami punya semua

Mintalah!
Mintalah apa yang kalian suka
Jika emas seberat kapal
Tuhan kami takkan melarat

Cukup dua syarat
Syarat yang tak sarat
Sedekah dan sholawat

Malang, Desember 2018.

Tentang Penulis:

Moehammad Abdoe, menulis puisi dan cerpen. Karyanya bertebaran di berbagai buku antologi bersama dan media cetak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Moehammad Abdoe (Pondok Sastra)

BIANGLALA Oleh: Moehammad Abdoe. Musim hujan di Kota Malang Pelangi di tepi Sungai Brantas itu Indah menawan bak tepian mata Kemilap cahayanya ingin mengabadikan Tatkala senja mengujung tiba Matahari tersangkut di kabel Bocah-bocah sebaya bersahaja Menarik layang-layang Bila di Jakarta angin saja dijual Di kotaku angin bertebaran Melesat ke segenap penjuru ruang Pohon nyiur di tepi jalan Malang, 20 November 2019. MERPATI Oleh: Moehammad Abdoe. Merpati Jemputlah kekasih Tatkala ia bertanya Jawablah karena cinta Rayu dan cium Sambutlah dengan senyum Gamit dan kepakkan sayapmu Terbanglah sampai tujuh Pulau Buru, Namlea, November 2018. GUNUNG BOTAK Oleh: Moehammad Abdoe. Hidangan emas dari Yang Maha Pemurah dari ceruk rantau Gunung Botak menjadi rujukan orang-orang nestapa. Daun biru pelangi membungkus tubuhnya yang terjal menampung kekejaman penambang yang siap men...

Puisi Moehammad Abdoe (Pondok Sastra).

gambar google. DARI LORONG SELIMUT Oleh: Moehammad Abdoe. Ya Tuhan secuil batu bata tiupan firman adakah ruang atau sekedipan waktu untuk lari? Di balik selimut kelam ruhku direnggut sunyi sejenak ingin kulepas garis pandangMu Menembus malam melintasi rembulan bintang-bintang, bima sakti dan galaksi-galaksi Dari barat sampai timur fajar tiada kusanggup berpaling dariMu yang luas mengetahui Bangkalan, 03 April 2019. API Oleh: Moehammad Abdoe. Kuhisap cintamu pada api Dalam sukmaku yang sunyi Membentang kepak-kepak burung Rindu menabik waktu Aku tidaklah kau Kecuali menyatu dalam dzatmu Berkelana di gurun sahara Desir angin sangkakala Adanya dari hulu ke hilir Tak usang oleh peradaban zaman Cinta melebur dalam nirwana Segala kuarsa pujangga hati Rantau, 14 Desember 2019. MANI BUNGA KERANDA Oleh: Moehammad Abdoe. Mani bunga keranda Di pundak-pundak petani Kereta arak-arakan Payung zikir Sepetak ladang basah Bedeng renungnya rahim bumi ...