Asmaradahana
apakah yang berpaling darimu
keraguan rintik hujan di luar jendela
datang laju angin membawa kabar
bisik-bisik daun kering
asmaradahana sepasang burung jalak
hinggap sayap sengketa di dahan rambutan
berhujan-hujan asmara ke bumi
dua paruh saling patah
menangkup garis musim mengabu
jauh di luar batas
Malang, 25 Agustus 2020.
Bintang Pengetuk
Rembulan bergelayut awan
Bintang-bintang berzikir di kedipannya
Memancarkan cahaya terang benderang
Gulita rona marcapada
Mengetuk setiap pintu-pintu rumah itu
Sebagai tangga nada para pejalan malam
Dari menuju pelataran sumpahnya
“Maka, Sayang. Ketuklah pintu rumahku”
Mengolah dan mengasah panca indra
Senantiasa menyelami kedalaman
Cahaya di atas cahaya
Sang pemilik tunggal semesta alam
Malang, 23 Agustus 2020.
Mandul
Kutulis sajak ini
dari seorang pemegang pena
yang termenung di tepi sungai tohor
telaga hitam penanya
Menyaksikan pohon meranggas
paru-paru perunggu bernapas tiada air
tanpa sirip melintas di dalamnya
bibir pucat kering
Diakah seorang penyair
Hidup dari menyerap napas puisi
cangkulnya berupa pena
menyemai benih alfabet
di ladang massa
Malang, 23 Agustus 2020.
Adopsi
Di negeriku Indonesia
anakanak yatim piatu
aku melihat mereka tengah kelaparan
terlunta-lunta
dipermainkan arus gelombang kehidupan
diimpit dua tebing di tengah kota
dibakar terik kekuasaan
terkubur mati
O, Tuhan
Yang Maha Pengasih dan Bijaksana
pundak siapakah kini yang dapat mengayomi
memberikan haknya sebagai rakyat
janji atas kepemimpinan
Keyatimpiatuan anakanak bangsa
negeri ini
Malang, 24 Agustus 2020.
Moehammad Abdoe, anggota komunitas Dari Negeri Poci. Pelopor komunitas Pemuda Desa Merdeka (PDM 2015) dengan gerakan yang mengangkat tema sosial dan seni musik jalanan. Karyanya berupa puisi dan cerpen telah diterbitkan di berbagai media massa, dan diabadikan dalam berbagai buku antologi. Saat ini, ia tinggal di sebuah desa kecil di bawah lereng bukit kapur (Malang).


Komentar
Posting Komentar