SKETSA MONOLOG BERBATUAN
Pohon-pohon merenung
Tempias hujan menampar kelisah
Daun kering saling berguguran
Menimpa pada gemercik air sungai
Selaksa rindu mengalir
Monolog berbatuan sunyi
Ikan sepat berenang dengan arus
Burung kedasih mengeja syair hujan
Menukik serangga pada jejaknya
Anak-anak bermain sungai
Malang, 1 Juli 2020.
MATAHARI BUNGA KUACI
Hari selepas hujan redah
Bulu matanya perlahan semakin memanas
Mengintip di balik kerimbunan
Di langit tua yang bersangga tiang
Matahari pun telah berangsur ke laut
Pelepah daun pisang kemudian menguning
Burung-burung malam bermain dawai
Menyanyikan sajak tentang rembulan dan anggur
Sebelum cahaya tersebut benar-benar berlalu
Adapun ribuan anak panah pengantar doa
Saling gemetar dan berkalang lidah
Membaca tangis selembar robekan peta
Malang, 3 Juli 2020.
MASKUMAMBANG
Siluet kapal menyempit ke pulau
Cahaya kuning dipancarkan
Mengapung dengan gelombang laut
Tercubit pasir basah
Gelora tangis bayi merah
Menangkup bebatuan telanjang
Berpayung pesisir sampai
Tohor telaga suci
Di keruh cahaya bulu matanya
Merayap kasih sayang
Tali pusat masih tertambat pada rahim
Jangan kelak beringkar janji
Kalipare, 4 April 2020.
Moehammad Abdoe, anggota komunitas Dari Negeri Poci. Pelopor komunitas Pemuda Desa Merdeka (PDM 2015) dengan gerakan yang mengangkat tema sosial dan seni musik jalanan. Karyanya berupa puisi dan cerpen telah diterbitkan di berbagai media massa, dan diabadikan dalam berbagai buku antologi. Saat ini, ia tinggal di sebuah desa kecil di bawah lereng bukit kapur (Malang).
#sajak #moehammadabdoe #bangkapos #pondoksastra


Komentar
Posting Komentar