IBUKOTA
selamat malam kota Jakarta
malam selamat
selamat malam tabu
nasib ibuku yang malang
ibuku yang hampir mati di kaki reruntuhan gedung
sebab ayahnya akan pergi mencari ibu tiri
ke pulau perawan seberang:
mendompeng batu bara
membangun rumah tangga dan peradaban baru
aku masih berdiri di antara cahaya gemintang lampu gedung
Jakarta tanpa bintang
Jakarta tanpa langit dan rembulan ketika malam
aku menyaksikan seorang anak perawan belia ditelanjangi
oleh sepuluh pria remaja dewasa
dan seratus ribu orang tua yang tengah haus nafsu
mereka saling termenung di balik punggungnya
kota Jakarta
nasib ibuku yang paling malang
ibuku yang hampir mati di kaki reruntuhan gedung
sebab ayahnya akan pergi mencari ibu tiri
ke pulau perawan seberang:
meracik bau anyir sungai tohor yang kotor
untuk warisan masa depan
Jakarta, 3 Februari 2020.
KAMPUNG HALAMAN
dedaunan pohon melambai
tiupan angin menyapu debu halaman
perih menyapa mataku
bertanya kabar tentang musim dingin
tempat di mana pertama kali sanda meneguk air susu
dari hasil ibu memakan makanan yang tumbuh di tanah asalnya
tiada kerinduan selain kerinduan
seolah hati baru saja sembuh dari ngilu bising kota
mendengar lagi suara nun jauh tertinggal oleh putaran waktu
di sudut peraduan nasib orang-orang melarat:
wewangian baju kota
lampu gedung pencakar langit
serta anak-anak jalanan yang masih terusik dari tidur malamnya
duhai wajah teduh berambut mati
letih kusimpan rindu di antara lipatan kulit ular
mendedah cangkul saat
kerutan wajah mulai tampak pada kaca
sisa-sisa kenangan
guratan masa lalu sebelum semburat senja senandung diri di halaman
pada hari sebelum senja itu
meringkuk memasuki pintu malam berbintang
anak-anak kembali belajar mengaji
membersihkan daki di sekujur tubuhnya
kepada siapa pertama kali
sanda belajar berbakti
Jakarta, 29 Maret 2020.
MUSAFIR
dalam sebuah cermin muram kamar tua
sepotong replika wajah seorang pengembara dari negeri asing:
"kau terduduk serupa patung denganku"
sementara poros telaga bening matamu
terkatup dinding teratai
barangkali sejenak dapat kuselami di balik wujud siapa dirimu sebenarnya
yang menempuh jalan suluk menuju altar
pengabdian diri dalam rimba
sedang kemilau rona swastamita acapkali menampakkan cumbu rayunya pada kaca
serupa tempias hujan pelabuhan angin di balik kaca jendela
itu wajahmu semakin tampak menua
mengerut daun telinga sore hari dalam zikir masa berkunjung
larut serta melipat laju bayangmu kian memanjang
Jakarta, 19 Oktober 2020.
Moehammad
Abdoe, pelopor komunitas Pemuda Desa
Merdeka (PDM 2015) yang banyak menghimpun para seniman/musisi dari kota Malang
dengan gerakan sosial dan kreatif musik jalanan. Karyanya berupa puisi dan
cerpen terbit di berbagai media massa Indonesia maupun luar negeri, antara
lain: News Sabah Times, Harian Ekspres, Utusan Borneo, Suara Sarawak, Suara
Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Koran Merapi, Rakyat
Sultra, Riau Pos, Tanjunpinang Pos, serta diabadikan di pelbagai buku antologi
bersama.


Komentar
Posting Komentar