AROMA SILANG KAPUR BARUS 1
Dalam almari itu
Masih tertata rapi kemeja dan sarung
Pelasah melipat kenangan
Jejak tubuhmu
Bibir pucat masalah
Senandung sesal aroma kamper
Memilin jari-jari kasih
Pada selembut sutra
Menjahit kembali
Ketiak kemeja nan pernah robek
Meminang ampunan
Seluas pintumu
Kalipare, 21 Juni 2020.
AROMA SILANG KAPUR BARUS 2
Melihat catut dan gunting di lipatan baju
Betapa aku masih menghafal aroma ketiak bulan
Saat melepas satu per satu bulu matamu
Nan kerap menangis di kedipan malam
Dirahasiakannya obat mata dalam saku
Biarlah bulan menelan sepi lukanya di antara kemilap kejora
Anak-anak dari Timur yang tumbuh
Menebar wangi kapur barus di meja makan
Kalipare, 22 Juni 2020.
AROMA SIILANG KAPUR BARUS 3
Masa di mana kau dapat membelinya dari kios pasar tradisional, dulu
Sebuah arloji berwarna keemasan yang kini mulai tampak pudar
Sebermula adalah benda kesayanganmu
Melingkar setia di pergelangan tangan, sebagaimana sikap pelayan
Jarumnya saling termenung di angka setelah matamu enggan dapat melihat
Tiada ke mana secercah cahaya dari lubang kunci untuk memasukkan telunjuk
Mencuri waktu senggang masa lalu barang sekejap mata
Kecuali hanya wangi kapur barus dan kelopak bunga layu
Malang, 23 Juni 2020.
Moehammad Abdoe, anggota komunitas Dari Negeri Poci. Pelopor komunitas Pemuda Desa Merdeka (PDM 2015) dengan gerakan yang mengangkat tema sosial dan seni musik jalanan. Karyanya berupa puisi dan cerpen terbit di berbagai media massa dalam negeri maupun luar negeri, antara lain: Utusan Borneo, Sabah (Malaysia), Suara Sarawak, Suara Merdeka, Minggu Pagi, Koran Merapi, Kedaulatan Rakyat, Republika, Rakyat Sultra, Riau Pos, serta diabadikan di berbagai antologi bersama. Saat ini, ia tinggal di sebuah desa kecil di bawah lereng bukit kapur (Kalipare-Malang).

Komentar
Posting Komentar